Komitmen Kementerian Pertanian dalam menggenjot hilirisasi pertanian khususnya pada komoditas tanaman pangan guna meningkatkan kesejahteraan petani terus menunjukkan bukti nyata. Beragam bentuk produk turunan hasil hilirisasi semakin berkembang berkat penerapan teknologi dan inovasi yang dilakukan tanpa henti.
“terkait hilirisasi ini sangat menarik, produk pangan kita berdasarkan pohon industri tercatat bahwa tanaman padi sudah memiliki 44 jenis produk turunan mulai dari akar, batang, jerami, malai, hingga bijinya untuk dimanfaatkan sebagai bahan pangan, pakan, pupuk, maupun biofoam. Selanjutnya, jagung pun demikian dapat telah dimanfaatkan mulai dari klobot,batang, hingga tongkol dan pipilan bijinya untuk diolah sebagai bahan pangan, pakan, maupun industri hingga menghasilkan sekitar 34 produk turunan. Komoditas tanaman pangan yang lain pun demikian sedang gencar-gencarnya berkembangnya melalui UMKM-UMKM,” ujar Suwandi dalam keynote speech-nya pada kegiatan Bimbingan Teknis dan Sosialisasi (BTS) Propaktani episode 1006 bekerjasama dengan APPERTANI di Jakarta, Selasa (12/9/2023).
Suwandi menambahkan, selain membutuhkan perkembangan teknologi dan inovasi pada proses hilirisasi juga perlu dibarengi dengan pembentukan branding produk yang lebih kekinian untuk menarik generasi muda.
“tidak ketinggalan, sekarang eranya millennial harus dibuat strategi bagaimana caranya agar branding komoditas pangan kita yang semula inferior dapat diubah menjadi naik kelas sehingga menarik minat anak muda,” tambahnya.
Turut hadir pakar teknologi pascapanen dari APPERTANI, Joni Munarso, mengatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat menjadi penentu keberhasilan dalam proses hilirisasi, yaitu informasi pasar, karakteristik produk, ketersediaan teknologi/ inovasi, keterandalan sumber daya manusia (SDM) pelaku, kepastian kesesuaian bahan baku, serta dukungan regulasi, kebijakan, dan manajemen.
“berhasil atau tidaknya hilirisasi ini sangat bergantung sekali pada regulasi maupun kebijakan yang memengaruhi cara mengelola sumber-sumber daya yang ada,” tutur Joni.
Lebih lanjut, Joni menjelaskan bahwa salah satu bentuk hilirisasi pada komoditas pertanian dapat berupa pengolahan bahan baku menjadi bentuk pati maupun tepung. Hilirisasi produk tepung dapat dikembangkan lagi dalam bentuk produk siap makan, produk siap saji, dan sebagai produk komplimenter/ bahan pelengkap. Adapun hilirisasi pada produk pati dapat berkembang menjadi sirup (glukosa & fruktosa), modified starches, bioethanol, dan biodegradable plastic.
“saat ini ketersediaan inovasi teknologi hilirisasi berbasis kandungan pati telah siap mendukung, terlebih SDM periset juga cukup tersedia dan mumpuni, kita tinggal menunggu implementasi dalam skala nasional untuk terlaksananya program hilirisasi ini,” imbuhnya.
Menyambung dari paparan sebelumnya, pakar teknologi pangan, diversifikasi dan pangan fungsional APPERTANI yang juga merupakan salah satu periset di BRIN, Sri Widowati, menyampaikan bahwa komoditas tanaman pangan selain sebagai sumber karbohidrat namun juga berperan sebagai sumber protein nabati, khususnya pada komoditas aneka kacang. Meskipun demikian untuk saat ini masih terfokus pada komoditas kedelai saja, sehingga perlu dioptimalkan kembali hilirisasi pada komoditas tanaman pangan sumber protein lainnya.
“sangat perlu adanya edukasi pada masyarakat bahwa protein nabati tidak hanya berasal dari produk kedelai saja, masih banyak jenis aneka kacang lainnya yang termasuk komoditas tanaman pangan yang dapat dijadikan sebagai diversifikasi pangan sumber protein nabati seperti koro benguk dan koro pedang. Kuncinya, ciptakan produk dari komoditas tersebut yang enak dengan gaya promosi yang menarik dan kekinian,” jelas Sri Widowati.
Terakhir, pakar komunikasi dan penyuluhan pembangunan APPERTANI, Kurnia Suci Indraningsih, mengungkapkan bahwa strategi atau model alih teknologi mampu membantu dalam akselerasi alih teknologi untuk mendukung hilirisasi. Terdapat beberapa strategi dalam akselerasi alih teknologi salah satunya yaitu dengan memanfaatkan media elektronik maupun non elektronik seperti cyber extension, pendekatan model spectrum diseminasi multi channel (SDMC), portal web, pameran, media cetak, maupun radio dan terlevisi.
“selain berfokus pada media alih teknologinya kita juga perlu memperhatikan karakteristik teknologi yanga kan dikenalkan kepada petani. Perlu kita pastikan bahwa teknologi tersebut telah memenuhi syarat seperti mempunyai keuntungan yang relatif, sesuai dengan kondisi sosial budaya, tidak rumit atau mudah digunakan, dapat diujicobakan, dan dapat diamati,” pungkasnya.